Gustafalattas ' Proud be Indonesian People

September 22, 2010

Mencari Dalang Teroris

Filed under: Uncategorized — Gustaf Al attas @ 10:44 am

Temuan utama ;
Penelitian menguji tiga kelompok Islam tipikal (moderat, fundamental, dan radikal) untuk menentukan tujuan mereka, strategi dan taktik untuk mempengaruhi masyarakat Muslim Indonesia melalui penggunaan beragam bentuk komunikasi. Secara khusus, kami berfokus pada tiga modus komunikasi: media massa, media gerakan dan komunikasi interpersonal. . Salah satu temuan utama adalah bahwa media massa sebagai alat persuasi strategis tidak menghasilkan efek langsung yang signifikan untuk salah satu dari tiga kelompok liko. Namun, media Produk digunakan dengan sukses oleh kelompok radikal dalam kombinasi dengan kelompok-kelompok sel, juga dikenal sebagai halaqa, usroh, dan Liko.. Dalam pertempuran hati dan pikiran kaum muslim, setelah seseorang diperkenalkan dengan sebuah kelompok radikal melalui kontak interpersonal atau aksi unjuk rasa kecil, media massa digunakan dalam kelompok-kelompok sel sebagai alat indoktrinasi. kekejaman yang dilakukan terhadap Muslim, artikel ideologis di majalah, buku, dan pamflet, televisi dan radio argumen / terhadap ideologi tertentu mengubah dan memobilisasi anggota baru ke dalam persaudaraan radikal Untuk alasan ini, efek media massa terjadi ketika dimediasi oleh kelompok sel, dan pengaturan tersebut dapat menciptakan hasil yang kuat.. Tapi ini terutama komunikasi interpersonal seperti yang dipraktikkan dalam kelompok-kelompok sel yang memiliki efek paling kuat. Ismail Yusanto, juru bicara untuk kelompok radikal Hizbut Tahrir lain, halaqa adalah alat yang paling efektif dalam gerakan senjata mereka. Dalam merekrut Anggota

kedua kami menemukan bahwa adalah kelompok-kelompok yang memanfaatkan struktur kelompok sel lebih tangguh dan lebih cepat berkembang daripada yang tidak. Sepanjang penelitian kami, pengaruh gerakan liberal dan moderat berkurang, sedangkan kelompok radikal Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah cepat berkembang. Para kelompok liberal JIL hampir mati, dan kelompok moderat Darud Tauhid adalah sekitar 1 / 3 dari ukuran aslinya dari awal penelitian kami, di mana sebagai HTI pada tahun 2003 telah 5.000 anggota yang menghadiri konferensi kekhalifahan, namun pada akhir tahun 2007 itu 90.000 hadir.

Metodologi:

Kami juga memeriksa sebagian besar artefak keduanya diterbitkan dan tidak diterbitkan oleh kelompok-kelompok ini. Banyak dari bahan itu dalam bahasa lain selain Bahasa Inggris. Hasil dari metode penelitian awal pengembangan kami dipandu pertanyaan survei yang kita termasuk dalam survei internasional START’s.
target kelompok kami dalam mengembangkan daftar alamat email dari peserta situs-situs Web – biasanya dari blog peserta. dari sikap dan perilaku peserta blog radikal dan yang menghadiri kelompok halaqa sel Dari survei kami memilih 19 orang yang kita temui di Indonesia dan melakukan wawancara kualitatif tentang media konsumsi dan sikap tentang kelompok-kelompok radikal tertentu dan konseps international surveysKami juga melakukan wawancara dengan para ahli terkemuka, seperti Sidney Jones di International Crisis Group Indonesia, dan mewawancarai para pemimpin Islam seperti Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia pada tiga kesempatan, Dr Yon Machmudi dari Ikhwanul Muslimin Indonesia dua kali, dan Ulil Asshar- Abdalla dari JIL (Indonesia Islam Liberal).. Kami juga memiliki banyak percakapan email dengan para ahli untuk memeriksa fakta-fakta dan memperluas pemahaman kita tentang konsep-konsep.Perekrutan Anggota baru Teroris
HASIL analisis berbagai pengamat dan Polri menunjukkan tiga faksi besar jaringan teroris di Indonesia mulai berkolaborasi. Ketiga faksi itu adalah Jemaah Islamiyah (JI), Darul Islam (DI), dan kelompok Ambon-Poso. Fakta itu terungkap pascapenyergap-an tersangka teroris di Leupung, Aceh Besar, termasuk tewasnya tersangka teroris, Encang Kurnia alias Jaja dan Pura Sudarma alias Muttaqin, yang salah satunya ternyata guru Imam Samudra.
Kolaborasi mereka terjadi berkat usaha penyatuan yang dilakukan Dulmatin, buron teroris bom Bali I yang tewas di Pamulang. “Dulmatin mengoordinasikan kelompok-kelompok radikal Banten-Aceh,” kata Kabareskrim Polri Komjen Ito Sumardi di Jakarta, kemarin.
Ito memaparkan kelompok Encang dan Sudarma diajak Dulmatin untuk bersatu dan berlatih bersama. “Dari kesaksian para tersangka terungkap pula bahwa Dulmatin-lah yang merekrut anggota baru kelompok itu.” Pengamat terorisme Dynno Chress-bon meneguhkan pernyataan Ito. Dynno melihat pemilihan Aceh sebagai tempat pelatihan sudah direncanakan secara matang. Ia menyatakan ada kesepakatan untuk membentuk Republik Islam Aceh yang digagas NII (Negara Islam Indonesia), DI, dan JI di Aceh.
“Mereka sudah menetapkan itu sejak 1999. Mereka rapat pada 15 Desember 1999, masuk Aceh pertama kali diwakili oleh Aiman Attawakil Umar Al Farouk,” papar Dynno, kemarin. Ia juga meyakini Al-Qaeda ikut membiayai pelatihan di Lamkabeue, Aceh Besar. “Ada donatur yang diurus oleh Al-Qaeda datang ke Jakarta bernama Basir Abdul Latif pada 21 November 2009. Dia ditangkap ketika sampai di Bandara Soekarno-Hatta dan 17 Desember 2009 dideportasi ke Filipina.”

Tidak aneh

Ia merangkai keterkaitan Dulmatin dengan kelompok-kelompok lain yang bergabung di Aceh. Menurut dia, Dulmatin, Imam Samudra, Heru Kuncoro, dan Hambali merupakan teman dekat. Semuanya saling mengenal setelah sama-sama bertempur di Ambon.
Tim itu pulalah yang kemudian terlibat di Aceh. “Ajengan Jaja itu guru Imam Samudra. Ketika berlatih di Aceh dan dia hadir, itu berarti dia memanggil seluruh muridnya bergabung menjadi satu kesatuan,” imbuh Dynno. Bergabungnya mereka juga karena saling terkait dalam pelatihan di Filipina Selatan. Selama berlatih, mereka diurus Umar Patek dan Zulkarnaen. “Jika mereka bergabung, itu tidak aneh.”
Pengamat terorisme Mardigu Wowiek Prasantyo juga melihat berkumpulnya tiga faksi, yakni JI, DI, dan grup Ambon-Poso, bukan aneh. “Mereka saling mengenal dengan Umar Patek sebagai lemnya. Bergabungnya mereka untuk memperbesar kemampuan.”

Di sisi lain, peneliti terorisme Al Chai-dar menyebutkan kedatangan Dulmatin ke Indonesia bertujuan mempersiapkan revolusi besar di Jakarta. Pelatihan di Aceh, dimaksudkan untuk membentuk garda revolusi terdepan di Ibu Kota.
“Revolusi itu awalnya direncanakan dalam waktu dekat ini, maksimal enam bulan ke depan,” terang Al Chaidar. Bergabungnya kelompok-kelompok itu, tukas dia, bukan yang spesial. Pasalnya, mereka alumnus Afghanistan yang kembali ke Indonesia pada 1989. “Ada 5.000 orang Indonesia yang menjadi alumnus.”
(1) Pembuatan indeks yang didasarkan pada indikator objektif tentang keberhasilan Perang Global Melawan Teror, dan Jihad Global terkait, yang memungkinkan untuk penilaian dari upaya ini, baik dari perspektif pemerintah AS, dan dari perspektif jihadis Indeks akan mencakup informasi tentang ruang lingkup, sifat, dan frekuensi serangan al Qaeda, keluasan jaringan al Qaeda beserta Jaringan Teroris di Asia Tenggara yang telah dibangun di Indonesia , Malaysia ,Philipina , Pathani dan biaya (dalam berbagai ukuran) usaha di kedua sisi konflik ini
(2)kompilasi data tahunan dari 2001 -2.009 pada tindakan komposit tercermin dalam indeks untuk memungkinkan analisa keberhasilan dan kegagalan dari waktu ke waktu dalam upaya ini.

Analisis kualitatif pengembangan dan implementasi kebijakan pemerintah di Amerika Serikat, Kanada, Israel, Perancis, Jerman, Belanda, Denmark, Italia, Britania Raya, Spanyol,Indonesia dan India dan organisasi internasional dan regional seperti PBB, Uni Eropa, dan NATO. Data akan dikumpulkan dari open source dokumen sejarah dan dilengkapi dengan wawancara dengan masa lalu dan saat ini pejabat dari negara-negara dan organisasi sedang dipelajariDampak dari tindakan kontraterorisme juga akan diperiksa dari perspektif teroris melalui review memoar, pernyataan publik, wawancara media, surat-menyurat dan bukti lain reaksi keputusan , tindakan dari pemerintah Setempat dan Perilaku tindakan teroris.

Definisi teror atau terorisme menurut Wikipedia adalah Terorisme adalah puncak aksi kekerasan, terrorism is the apex of violence. Bisa saja kekerasan terjadi tanpa teror, tetapi tidak ada teror tanpa kekerasan. Terorisme tidak sama dengan intimidasi atau sabotase. Sasaran intimidasi dan sabotase umumnya langsung, sedangkan terorisme tidak. Korban tindakan Terorisme seringkali adalah orang yang tidak bersalah. Kaum teroris bermaksud ingin menciptakan sensasi agar masyarakat luas memperhatikan apa yang mereka perjuangkan. Tindakan teror tidaklah sama dengan vandalisme, yang motifnya merusak benda-benda fisik. Teror berbeda pula dengan mafia. Tindakan mafia menekankan omerta, tutup mulut, sebagai sumpah. Omerta merupakan bentuk ekstrem loyalitas dan solidaritas kelompok dalam menghadapi pihak lain, terutama penguasa. Berbeda dengan Yakuza atau mafia Cosa Nostra yang menekankan kode omerta, kaum teroris modern justru seringkali mengeluarkan pernyataan dan tuntutan. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat luas dan memanfaatkan media massa untuk menyuarakan pesan perjuangannya.
Saya sendiri seorang muslim, tapi akan tetapi saya sendiri tidak habis pikir dengan terorisme yang beragama Islam yang mengatasnamakan agama dengan melakuka terorisme.
Saya tahu pandangan/pendapat masing-masing individu itu berbeda, akan tetapi jika dasarnya adalah agama.Setidaknya apa yang dibaca adalah sama.
Sudah jelas Rasullah tidak pernah mengajarkan untuk menyakiti manusia.Tapi tindakan para teroris yang ingin warga asing takut ada di Indonesia it jelas sangat tidak benar. Saya pernah membaca, saya lupa persisnya dimana, akan tetapi di artikel/buku tersebut disebutkan bahwa warga negara asing yang ada disuatu wilayah negara lain/negara Islam mereka harus dilindungin karena mereka adalah tamu.
Pandangan para teroris yang menganggap mereka mati syahid jika melakukan bom bunuh diri, menurut saya adalah salah besar. Karena mereka merugikan dan menyakiti orang lain, orang yang tidak bersalah, orang yang tidak menyerang mereka.
Jika mereka ingin melakukan dakwah bukan dengan cara mengusir kaum yang tidak seagama, akan tetapi merangkulnya. Saya pribadi juga sedih dengan banyaknya teroris yang ada di Indonesia karena ini merusak citra bangsa, kepercayaan warga dunia terhadap Indonesia menjadi berkurang. Misalnya wisatawan yang tidak berani datang ke Indonesia karena takut akan di bom, padahal kita semua tahu bahwa wisatawan asing menyumbang devisa yang cukup besar bagi bangsa ini. Yang mana dapat digunakan untuk membangun bangsa, mensejahterakan rakyat dan melunasi hutang negara yang menggunung.
Selain itu juga merusak nama baik Islam, orang jadi melihat Islam negatif padahal tidak setiap orang Islam teroris. Bahkan negara seperti Amerika sangat sensitif, lihat saja ketika kita datang ke sana dan nama kita menggunakan nama Islam, mereka pasti memperlakukan pemeriksaan lebih. Apakah ini yang kalian perjuangakan? Alih-alih demi agama, yang ada hanya merusak nama agama.

Apakah Teroris di Biayai Oleh Negara Tetangga…??

Indonesia memiliki negara tetangga yang paling terdekat, seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Dengan kekayaan pariwisata dan memiliki tanah yang subur, membuat Indonesia menjadi negara pesaing bagi negara lain terutama tetangganya, dalam hal ini menggapai wisatawan mancanegara.
Indonesia selain kaya akan tempat wisata, juga kaya akan budaya sehingga banyak di klaim oleh negara Malaysia menjadi miliknya seperti : Batik, kesenian Reog, angklung dan lain-lain ( Kadangkala saya berharap, Malaysia mengklaim Saksang / makanan khas Batak yang terbuat dari daging babi adalah makanan khasnya ).
Sebelum terjadi peledakan bom Bali, wisatawan mancanegara termasuk orang Malaysia, banyak yang datang menjadi wisatawan ke Indonesia, dimana hal ini meningkatkan pendapatan negara Indonesia. Hal tersebut menjadi berbanding terbalik setelah terjadi peledakan bom secara beruntun sejak tahun 2000 sampai dengan tahun 2009 oleh teroris di Indonesia, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Malaysia dan Singapura semakin meningkat. Bahkan banyak orang Indonesia berwisata ke Malaysia dan Singapura.Kalau dipikir-pikir, tempat wisata kita jauh lebih banyak dan indah daripada tempat wisata di Malaysia dan singapura, tapi kenapa wisatawan berkurang…?

•Mungkin pengelolaan wisata di Malaysia dan Singapura terorganisir dan benar-benar melakukan pembenahan dan perbaikan terutama infrastruktur, hal ini yang tidak terlalu ditiru oleh pemerintah di Indonesia. Contoh : Bukit Lawang di Sumatera Utara, kalau dikelola adalah tempat wisata yang sangat indah dengan sungai berbatunya, suasana pegunungan di kaki gunung Leutser dan wisata orang utannya.

•Mungkin keamanan dan kenyamanan yang belum terjamin bagi wisatawan di beberapa tempat, seperti seringnya para wisatawan kecopetan dan apabila belanja di tempat wisata, para penjual sering memanfaatkan dengan menjual souvenir dengan harga yang terlalu mahal.

•Ditambah lagi dengan terjadinya peledakan-peledakan bom yang hampir tiap tahun semenjak tahun 2000 sampai dengan 2006.

Ketiga Hal ini yang mungkin ( Berdasarkan pikiran dan analisa saya ) dilakukan oleh Malaysia, untuk menjatuhkan pariwisata kita, sehingga wisatawan mancanegara yang ingin ke Indonesia, beralih ke negara tetangganya seperti Malaysia. Seperti kejadian bom tahun 2009 di Ritz Carlton dan J.W.Marriot hotel di Indonesia, membuat tim Manchester United, yang tadinya akan datang ke Indonesia dan menginap di Ritz Carlton Hotel, serta melakukan uji coba dengan tim nasional kita, membatalkan kunjungannya tersebut, dan beralih mengunjungi langsung Malaysia dan sempat bertanding dua kali dengan tim kesebelasan Malaysia. Dengan kedatangan tim MU dari Inggris, diharapkan dapat menjadi promosi kepada mereka dan dunia, agar negara kita di kenal dengan harapan meningkatkan wisatawan ke Indonesia.
Hal ini membuat pertanyaan pada saya, ” Apakah peledakan bom oleh teroris di Indonesia, ditujukan untuk mematikan pariwisata di Indonesia…???”

Pertanyaan tersebut seperti membuka pikiran saya, mungkin saja peledakan bom oleh teroris yang gembongnya berasal dari negara tetangga Malaysia seperti : DR. Azhari, Noordin M.Top, Dani dan Abas, dibiayai oleh negara Malaysia untuk menjatuhkan pariwisata di Indonesia dan market share wisata kita beralih ke negara Malaysia. Kenapa DR. Azhari dan Noordin M.Top tidak melakukan terorisme di Malaysia, dimana kita ketahui kalau tujuannya membunuh orang Amerika atau Australia dan Eropa, di Malaysia itu banyak expatriat yang bekerja di sana. Di gedung Menara Petronas, banyak perusahaan asing berada dan karyawannya asing. Kenapa mereka tidak melakukannya di Malaysia..?????
Hal tersebut membuat pikiran saya menyatakan, bahwa pemerintah Malaysia memberikan dana kepada DR. Azhari dan kawan-kawan untuk melakukan tindakan pengacauan keamanan di Indonesia. Caranya adalah mereka ( DR. Azhari dkk ) merekrut orang-orang Indonesia untuk membantu misi mereka dengan memberikan doktrin Jihad + terjaminnya kehidupan dan materi anak dan istri mereka bila melakukan misi tersebut. Sehingga banyak anak bangsa yang tergiur seperti : Imam Samudra dan kawan-kawan, didukung dengan kemiskinan yang mereka derita, sehingga dengan iming-iming menerima uang yang besar menurut mereka adalah jalan satu-satunya, sekaligus bisa berjihad menurut mereka.Dari hal tersebut, bukan hanya perusahaan saja yang memikirkan bagaimana menjual produknya dengan sedikit menghalalkan segala cara ( walau tidak semua perusahaan seperti ini ), negara juga menjual produknya dalam hal ini merebut wisatawan dengan hal-hal yang sedikit menyimpang.

Sejumlah nama menjadi beken karena terkait kasus terorisme. Sebut saja Dr Azahari, Noordin M Top, dan Dulmatin. Kini nama Abu Tholut mencuat seiring digulungnya jaringan teroris di Medan. Seberapa berbahayakah Abu Tholut?
“Abu Tholut itu ahli dalam pengadaan senjata. Kalau ada orang yang begini berbahaya tidak?” cetus mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah (JI) Nasir Abas dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (21/9).
Abu Tholut juga pernah ditangkap polisi dan di muka pengadilan mendapat vonis delapan tahun penjara karena kepemilikan senjata api dan bahan peledak. “Setelah bebas, dia membentuk kelompok di Aceh, melakukan pelatihan dan perampokan berdarah,” sambung Nasir.
Apakah dia juga memiliki kemampuan merakit senjata maupun membuat peledak? “Bisa. Dia pernah menjadi pengajar atau instruktur bahan peledak di Afghanistan dari tahun 1987 sampai 1992,” tutur pria berkacamata ini.
Ditambahkan Nasir, Abu Tholut juga pernah aktif di Mindanao, Filipina. Abu Tholut pernah menjadi pemimpin camp di Filipina pada 1999-2000. Karena inilah dia menengarai, Abu Tholut mudah mendapatkan pasokan senjata.
“Dia juga pernah memimpin JI di Poso dari tahun 2000 sampai 2002, jadi dia punya banyak chanel,” sambungnya.
Terduga teroris yang ditangkap di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara (Sumut) disinyalir digerakkan Abu Tholut. Abu Tholut pernah divonis 8 tahun, namun bebas karena mendapat remisi hingga 4 tahun. Abu Tholut mempunyai nama alias Mustofa. Selain mengejar Abu Tholut sebagai DPO, Mabes Polri juga masih mengejar 15 orang tersangka lagi. Total dalam kasus ini, polisi menangkap 33 orang, termasuk 3 orang yang tewas.
TERORIS RAMPOK BANK SIAPKAN BOM PEMBUNUH
Rentetan perampokan terhadap money changer (penukaran uang) dan bank di Sumatera Utara, termasuk Bank CIMB Niaga, ternyata untuk mendanai terorisme. Salah satu pelakunya menyimpan 1,5 kilo TNT (bom) yang siap diolah menjadi pembunuh massal.
Kapolda Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengemukakan tidak hanya di bank, tetapi juga di money changer, antara lain di money changer Gereja Tanjung Balai, BRI Jalan Nangka, dan showroom BRI Kisaran. Sebelum merampok Bank CIMB Niaga Medan pada 18 Agustus 2010 lalu,kawanan garong ini juga menjadi pelaku perampokan di sejumlah tempat di Sumatera Utara. Misalnya di Bank Sumut pada 30 April 2010, money changer Belawan pada 13 Juni 2010, dan BRI di Amplas pada 13 Juli 2010.
Menurut Kapolri, 15 orang ditangkap hidup-hidup dalam operasi tersebut dan tiga orang tewas. Dua di antaranya ditangkap di Lampung. Salah satu pelakunya ditangkap hidup diketahui bernama Marwan alias Abah alias Beben alias Reza alias Watno, yang mengaku sebagai Wakil Al Qaeda Aceh.
Dari penangkapan ini pula Polri dapat mengungkap identitas dua orang tersangka teroris yang tertembak di Cawang, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. “Mereka adalah Udin dan Hasbi yang memang keluarganya, oleh yang namanya Marwan alias Watno, dilarang mengambil jenazahnya. Waktu itu kita langsung kebumikan”, ujar Kapolri. “Jadi, ini tidak murni kriminal sehingga penanganan kasus ini benar-benar dilakukan oleh Densus 88 dan mohon dipahami betul”.
BOM
Tiga tersangka yang tewas itu sebelumnya menggunakan pagar hidup anak-anak dan ibu-ibu. Polisi menembak Dani alias Ajo, Yuki Wantoro alias Deni alias Rojak, serta Ridwan, Yuki ternyata memiliki 1,5 kilo TNT (bom) yang siap dirangkai dan diledakkan.
Terduga Teroris yang Tewas Dapat 3 Tembakan di Dada & Punggung
3 Orang terduga teroris yang tewas didor Densus 88 dalam penyergapan di Tanjung Balai, Sumut, mengalami 3 luka tembakan di bagian dada dan punggung. Jenazah belum diambil keluarga.
“Kita masih menentukan apakah luka (luka tembakan) ini terjadi pada saat masih hidup atau sudah mati. Nampaknya, orang ini masih hidup,” kata ahli forensik RS Pirngadi, Medan, dr Amar Singh, di RS Bhayangkara.
Amar mengatakan, mereka mengalami luka tembak. Tembakan tersebut juga meremukkan tulang-tulang. “Ada 3 lubang di dada dan punggung. Dua orang luka tembaknya lebih dari dua tembakan. Jenazah belum diambil keluarganya,” ujar Amar.
Menurut dia, 1 hingga 2 tersangka teroris masih kritis. “Masih dirawat, perawatannya bagus,” kata pria yang mengenakan sorban warna biru ini.
Tersangka Marwan Dikenal Baik oleh Tetangga
Penangkapan Marwan (39), warga Desa Paluagas, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara (Sumut) yang dituding sebagai anggota komplotan teroris oleh Densus 88 Anti Teror membuat warga sekitar terkejut. Selama ini Marwan dikenal sebagai sosok yang baik.
Salah seorang warga, Niar, yang rumahnya tak jauh dari kediaman Marwan, menyatakan terkejut setelah mendengar kabar Marwan ditangkap karena masalah terorisme dan terkait dengan kasus perampokan CIMB Niaga Jl. Arief Rahman Hakim Medan.

Menurut saya, teroris di Indonesia, bukan konflik agama ataupun kebencian terhadap negara asing seperti Amerika dan Australia, tetapi apakah lebih daripada strategi bisnis negara Malaysia untuk meningkatkan devisa negaranya dari pengacauan keamanan di Indonesia.Setelah aksi penyergapan dan pengungkapan kelompok teroris di Aceh dan Pamulang oleh pihak kepolisian, yang salah satunya berhasil menewaskan Dulmatin, apakah terorisme di Indonesia akan akan berhenti? Melihat fakta fenomenalnya, masih besar kemungkinannya aksi teror terus berlangsung.

Beberapa pengamat terorisme dan pengamat intelijen berpendapat, potensi aksi teror masih cukup besar di Indonesia. Hal ini, bisa jadi karena memang ada target dari jaringan teroris. Atau, ada sekenario tertentu terkait aksi teror di Indonesia oleh pihak asing.

Mardigu, misalnya, mengatakan teroris telah membuat range target. Empat diantaranya adalah, pertama, Kepala Negara; kedua, pemimpin pilar bangsa; ketiga, pemboman atau penyerangan instalasi penting; dan keempat penyerangan kedutaan besar asing di Indonesia. Pengamat teroris ini melihat, aksi teror di Indonesia adalah bagian dari rekayasa atau “proyek teror”.

Berbeda dengan Mardigu, berdasarkan analisis dan informasi yang ada, pengamat intelijen AC Manullang menyimpulkan bahwa “teroris Pamulang” dan “teroris Aceh” merupakan bagian dari permainan Amerika Serikat. Semuanya diarahkan sebagai bukti bahwa di Indonesia masih eksis kelompok-kelompok teroris. Manullang melihat AS ingin memojokkan Indonesia dengan mempersepsikan kondisi keamanan di Indonesia adalah semu.
Target operation deception yang dilakukan CIA tidak lain adalah Muslim civilisation, peradaban Islam.

Sementara menurut pihak kepolisian, teroris Aceh dan Pamulang, terkait dengan keinginan pembentukan Negara Islam Indonesia (NII) dan Daulah Islam Asia Tenggara. Jaringan teroris ini ingin menjadikan Aceh sebagai basisnya. Kesimpulan pemeriksaan sementara pihak kepolisian ini didasarkan pengakuan beberapa tersangka teroris yang tertangkap. Secara historis, ideologis dan geopolitik kesimpulan polisi tersebut mendapat penguatan dari Al Chaidar. Pengamat NII ini melihat ada faksi-faksi NII yang berinteraksi dan bersinergis dengan jaringan teroris. Mereka berkeinginan menjadikan Aceh sebagai basis gerakan, karena dipandang sebagai wilayah yang aman (qoidah aminah). Selain Aceh, disebutnya Lombok.

Dengan kesimpulan itu, sudah jelas, akan ada target selanjutnya dalam perburuan teroris di Indonesia. Bahkan untuk memantapkan aksi kontra teror itu mulai ada “titik temu” antara Polri dan TNI. Hal ini dapat dilihat dari latihan gabungan anti teror yang digelar bersama oleh kedua institusi ini dibeberapa tempat di Jakarta.

Hanya saja, terlibatnya TNI dalam penanganan aksi teror di Indonesia, bisa jadi masih belum akan mendapat lampu hijau sepenuhnya dari AS. Menurut Andi Wijayanto, unit khusus teroris di TNI ada di pasukan khusus. Namun AS, karena adanya Leahy Law, maka tidak bisa melakukan program kerjasama yang melibatkan pasukan khusus, termasuk unit anti teror yang ada di Kopassus.

Pada perkembangan lain, juga muncul pergeseran aksi teror ke wilayah laut. Dalam aksi teror maritim ini, pembajakan kapal akan menjadi trend baru. Ada kemungkinan kelompok teroris memang mencoba menggeser sasaran mereka, sebagaimana model yang berlangsung di Somalia. Tetapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa teroris maritim ini terkait dengan presaingan “penguasaan” pengamanan Selat Malaka oleh AS dan Cina. Masih akan ada Road Map Teroris selama 2010 ini

” Indonesians People Hope Terorism is over from Indonesia”

Sumber :Douglas McLeod
Project Period: :
Juni 2007 sampai Mei 2009
Kompas/Detik.com

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: