Gustafalattas ' Proud be Indonesian People

Juli 14, 2010

Waspadalah ” Saya Melihat Papua Baru ” LIMA BELAS HARI SETELAH ULANG TAHUN WEST PAPUA YANG KE-39

Filed under: Uncategorized — Gustaf Al attas @ 6:37 pm


Papua Barat penuh dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Demikian juga dengan bahasa, budaya dan tradisinya begitu kaya-raya. Penduduk yang jumlahnya tidak mencapai 2 juta itu mendiami luas wilayah 3 kali Pulau Jawa. Dari sekitar 2 juta itu memiliki sekitar 250 suku dan bahasa yang berbeda. Dibandingkan dengan Jawa, perbedaan yang sangat menonjol hanyalah antara Jawa, Madura dan Sunda, sementara hampir seantero pulau berbahasa-budaya satu dan sama saja. Lebih meluas lagi, kalau kita menyebarang ke Pula sumatera, Kalimantan dan Sulawesi serta Bali, maka bahasa dan budaya mereka hampir sama saja. Memang mereka semua bertutur bahasa Melayusoid. Berbeda halnya dengan bangsa Papua, yang beretnis Melanesia, tetapi dengan jumlah yang sedikit tetapi memilik keragaman budaya yang begitu tajam. Secara garis besar sering ada kategorisasi Pantura, Pantai Selatan, Pesisir dan Pegunungan. Sementara Belanda membaginya ke dalam tujuh Kelompok Masyarakat Hukum Adat, atau masyarakat berdasarkan kemiripan dan perbedaan yang dimiliki dari sisi seni, budaya, tradisi dan bahasa lebih dari 15 bahasa Suku di Kepulaun Papua

1.Saya Melihat Papua Baru

Ketika kita berdiri dari titik itu, saya mengarahkan pandangan saya jauh ke depan. Seolah-olah saya bermimpi dan mimpi itulah yang menjadi visi saya. alam mimpi itu saya melihat PAPUA BARU. Nun jauh di sana saya melihat suatu cahaya yang menyinari suatu pulau, dalam kegelapan.
Mata saya semakin terbuka, semakin terarah dan semakin terfokus, seolah-olah pulau itu semakin mendekat, saya melihat pulau itu begitu indah dan begitu kaya; keindahan lautnya, pantai, sungai, gunung dan lembah, serta keindahan flora dan faunanya. Keindahan itu tetap terpelihara dengan baik. Pulau itu begitu kaya dengan kekayaan di lautan, di daratan, di bawah tanah dan di udara.
Kemudian saya melihat penduduknya. Tidak terlalu banyak. Ada suku-suku asli pemilik dari pulau itu. Ada pula saudara-saudaranya yang datang dari pulau-pulau lain dan menetap di situ. Mereka hidup dalam suasana persaudaraan dan saling mengasihi, karena pendatang menghormati dan mengakui hak-hak penduduk asli dan sebaliknya penduduk asli mengulurkan tangannya dan memberikan tempat-tempat yang layak dan aman kepada pendatang untuk hidup bersama. Mereka hidup dalam suasana penuh persaudaraan, penuh harmoni, aman, damai dan tenteram.
Mereka bekerja keras dan rajin belajar. Mereka bekerja saling bahu membahu. Tingkat kesejahteraan mereka dari hari ke hari terus meningkat mencapai tingkat yang melebihi saudara-saudaranya di pulau-pulau lain. Mereka memiliki peradaban dan martabat yang tinggi.
Mereka adalah penduduk yang tertib, penuh disiplin dan taat kepada hukum. Mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kebenaran. Menjunjung tinggi nilai-nilai etika dan moral. Mereka adalah umat yang beragama, beriman dan taat kepada Tuhan Allah, Sang Pencipta Yang Maha Kuasa.
Sesudah itu saya melihat pemimpin-pemimpinnya. Mereka terpilih langsung oleh rakyat secara demokratis. Mereka memiliki kapasitas dan kemampuan kepemimpinan yang tinggi, tetapi rendah hati. Mereka tidak mengenal korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka tidak mengenal diskriminasi. Mereka diurapi oleh Tuhan Allah sendiri dengan hikmat, marifat dan kebijaksanaan. Mereka memiliki wibawa dan kharisma. Mereka menjadi contoh dan teladan bagi rakyatnya
Pemerintahannya adalah pemerintahan yang terbaik, bersih dan berwibawa. Suatu pemerintahan yang melayani rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Demikian juga sebaliknya, rakyatnya hormat dan taat kepada pemimpin-pemimpinnya yang memerintah. Suatu pemerintahan yang akhirnya menjadi contoh dan teladan bagi provinsi-provinsi lain.
Inilah, kurang lebih mimpi saya tentang Papua Baru yang akan kita bangun di masa depan. Inilah Papua Baru yang akan kita tuju. Kita akan berjalan dengan penuh iman dan pengharapan, memasuki dan menikmati hari-hari dan tahun-tahun terbaik di hadapan kita yang Tuhan Allah sendiri telah sediakan bagi kita semua. Mengapa tidak?
MISI
Misi kita adalah mewujudkan cita-cita ini menjadi kenyataan. Tetapi masa depan yang lebih baik itu, tidak akan jatuh dari langit. Membangun masa depan yang lebih baik, merupakan suatu pekerjaan besar yang tidak pernah akan selesai, karena merupakan suatu proses yang akan berlangsung secara terus-menerus.
Proses itu pada hakekatnya merupakan suatu dialog segitiga antara Tuhan Allah Sang Pencipta dengan manusia dan alam sekitarnya. Proses itulah yang akan kita kenal sebagai Proses Pembangunan. Dan proses pembangunan adalah proses perubahan, yaitu proses transformasi masyarakat, menuju terwujudnya masyarakat baru.
Proses itu ibarat suatu perjalanan yang panjang, tidak mengenal kata akhir. Kita harus tahu tujuan ke arah mana kita harus pergi. Kita harus tau kendaraan apa yang paling sesuai untuk membawa kita menuju tujuan. Kita harus mengenal dengan baik medan itu bukanlah medan yang bebas dari hambatan, rintangan maupun gangguan. Kita juga harus tahu kekuatan dan kelemahan kita.
Dengan demikian misi kita. Sebagai suatu pekerjaan besar, suatu proses yang berjalan secara terus-menerus, membutuhkan tiga prasyarat yaitu, pertama kekuasaan (power), kedua sumber daya (resources) dan ketiga kepemimpinan (leadership).
Kita sudah memiliki kekuasaan yang besar, Undang-undang No 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus di Papua dalam memberikan kekuasaan yang besar dibandingkan kekuasan yang kita miliki sebelumnya. Kekuasaan itu telah memberikan kewenangan, ruang dan peluang yang sangat besar kepada kita untuk menggunakannya secara bertanggung jawab.
Kita sudah memiliki sumber daya yang besar. Sumber daya manusia, sumber daya alam dan sumber daya keuangan, dengan kekuatan dan kelemahan yang di milikinya. Segenap sumber daya yang dimiliki, perlu diorganisasikan dan dikelola secara efisien dan efektif.
Demikian juga masalah-masalah yang kita hadapi dan kita gumuli adalah masalah-masalah yang besar dan kompleks. Bahkan masalah-masalah itu telah mempertaruhkan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Persoalan kita sekarang adalah bahwa rakyat Papua sekarang membutuhkan seorang pemimpin yang besar pula. Hanya dengan memiliki suatu kapasitas kepemimpinan yang kuat dan bijaksana, ia dapat memggunakan kekuasaan itu secara bijaksana dan bertanggung jawab, dan mampu mengelola segenap sumber daya yang tersedia dengan sebaik-baiknya untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat.
Namun Sungguh Berbeda Gejolak suhu Poitik lebih Memanas ketika :
2.Oscar Gunto, Perwira MPP TRWP Meninggal Dunia
Ya, Tuhan, Doa untuk Oscar inilah kami, kami bangsa Papua
Sejak NKRI menginvasi dan menginjakkan kaki ke Bumi Cenderawasih melalui jalan yang curang dan tidak demokrasi, dan dengan pelanggaran Hak Asasi Kami sebagai makhluk ciptaanMu
Kami telah dengan berani menyatakan “tidak” kepada kehadiran NKRI dan terus berjuang untuk kemerdekaan kami.
Pada hari ini, telah berpulang salah satu Perwira kami di MPP TRWP, menyusul banyak Perwira dan pasukan serta orang Papua lain yang telah tiada demi perjuangan ini
Kami tahu sepenuhnya dan sedalam-dalamnya, bahwa Tuhan beserta kami, dan bahwa kami akan meraih kemerdekaan itu,
Walau demikian, “Sampai kapankah kami harus menderita dan terus mati berserakan di hutan rimba, tanpa dikubur di tanah leluhur dan kampung halaman kami?”
Apakah nenek moyang kami yang bersalah mendiami pulau New Guinea?
Apa dosa kami, sehingga kami harus berjuang sampai terpuluhan tahun?

3.Bendera Sang Bintang Kejora
Pada Tanggal 1 Juli 1971 adalah hari Proklamasi kemerdekaan bangsa Papua yang berdaulat diatas negerinya sendiri seperti bangsa-bangsa lain yang sedang hidup merdeka di muka bumi ini, sehingga bertambanya usianya yang ke 39 tahun, maka West Papua semakin dewasa untuk merealisasikan kemerdekaan itu karena dia cukup umur untuk mengatur dirinya sendiri didalam rumah tangganya West Papua.
Meskipun hak dan kemerdekaan itu dirampas oleh bangsa-bangsa lain dengan berbagai kepentingan di bumi Papua tetapi kami tetap memperjuangkan hak-haknya sampai West Papua berdiri sendiri diatas tanahnya, menjadi tuan diatas negerinya sendiri.
Walaupun West Papua masih dijajah oleh bangsa-bangsa lain, namun Ia selalu merayakan hari kemerdekaanya dimanapun, kapanpun, dia berada. West Papua semakin dewasa didalam mengatur, menata dirinya didalam perjuangan agar dalam alam kemerdekaan ia lebih dewasa untuk mengatur dirinya sendir tanpa campur tangan orang/bangsa-bangsa lain di muka bumi ini.
Didalam arena perjuangan pun ia telah dewasa untuk membedakan mana yang baik dan benar karena ia telah belajar banyak melalui banyak pengalaman dalam perjuangan, pengalaman baik dan buruk menjadi guru dan pelajaran yang paling berharga untuk ditetapkan sebagai landasan didalam perjuangan.
Seperti seorang yang sudah dewasa mencapai 24-25 tahun yang siap untuk memisahkan diri dari orang tuanya dan menikah dan mendirikan rumah tangganya sendiri serta mengatur rumah tangganya tanpa harus bergantung di orang tuanya. Maka kesiapan untuk West Papua berdiri sendiri diluar rumah tangga orang tua angkatnya/bapa piaranya.
Mengukur umur dan pertumbuhan Bangsa West Papua, sudah saatnya untuk memerdekakan dirinya dan membangun rumah tangganya sendiri.
Untuk itu dalam mempersiapkan dirinya menuju kemerdekaan dalam rumah tangganya, ia sendiri telah mempersiapkan Pagar Rumah, Landasan Rumah, Tiang-tiang rumah, papan, balok, atap rumah sehingga rumahnya sudah rampung tinggal pindah rumah kapan saja.
Kepala rumah tangga sudah ada, untuk bertanggung jawab sehingga semua anak-anak yang lahir sebelum menikah maupun sesuah menikah hendaknya menyatukan barisan dengan bapak rumah tangga agar kita dapat dibawa secepatnya ke rumah yang telah dibangun.
Untuk itu pesan kami: semua pejuang secara pribadi maupun organisasi yang masih terhamburan tanpa mengetahui siapa bapaknya, mari kita bersatu menyatukan barisan untuk merebut rumah itu meskipun bapa piara/bapa angkat tidak setuju, secara kasar maupun halus kita harus merebut rumah itu dibawa satu komando, bapak Revolusi West Papua yang sedang mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab didalam rumah tangganya.
Dalam proses perjuangan ini anak dan bapa harus menyatukan suara, kehendak, kekuatan agar bapa tiri yang datang dari jauh dan kawin mama di Papua bisa meninggalkan tempat diam-diam.
Agar semua keinginan itu tercapai, semua anak-anak yang mendirikan gubuk-gubuk kecil yang bernama PDP, DeMMAK, WPNCL, AMWP, harus bergabung ke rumah induk OPM dibawa komando Panglima Tertinggi Tentar Revolusi West Papua agar semua kekuatan yang tercerai-berai dapat disatukan sehingga dengan kekuatan ini kita dapat mengusir BAPA TIRI/PENJAJAH yang datang cari makan di tanah Papua dan merampas mama papua dari suaminya yang orang Papua asli lalu kawin dengan mama Papua sehingga telah mengacaukan dan mengaburkan jati diri anak negeri bersama ibu kandungnya.
Semoga cerita pendek ini menjadi kado ulang Tahun untuk-mu Papua, kami anak-anak yang lahir dari darahmu siap untuk meneruskan perjuangan sampai anak-anak negeri berdiri sendiri diatas Tanah Leluhurnya.
Kami persembahkan sebuah puisi untukmu:
Tangisan Seorang Yatim di Medan Perjuangan
Mama…. Telah sekian lama aku mengembara di rimba…
Telah sekian lama aku mengasingkan diriku di negeri orang..
Telah sekian lama aku mencari bapa kandungku,
karena Mamaku dikawaini orang yang tidak bertanggung jawab..
Dalam perjalanan pengembaraan ini aku telah kehilangan…..
Kehilangan mereka……
Om, kaka, adik, saudara-saudaraku, teman-teman-ku….
Tulang-tulang mereka telah berserahkan di hutan..
Di lubang batu…
Di lubang tanah….
Di kota-kota ….
Bagaikan binatang liar diatas tanahnya sendiri…
bagaikan anak yatim di negeri orang….
Tuhan…. Mengapa, mengapa…
Engkau ciptakan tanah ini..
Engkau lahirkan kami di atas tanah ini…..
Apakah hanya untuk lahir dan mati….?
Kepada siapakah siapa aku harus mengeluh…
Karena semua orang sekelilingku menutup telinga dan mata mereka…
Aku ingin kembali ke bapaku….
Aku ingin menemukan rumahku….
Aku ingin mencari dia….
Aku ingin berada di sisinya,. apapun situasi, kondisi, medan…… aku tidak peduli…..
Hai mama, kekasihku…….
Dengan berat hati aku meninggalkan-mu sekian lama…
Aku harus pergi…. Aku harus melawan….
Sampai kapapun, apapun situasinya…
untuk menemukan rumah dimana bapa berada…
Kuatkanlah hatimu….., berteguh kepada janji kita diatas tanah Leluhur…
West Papua…
Jangan bertanya kemana aku pergi, dari mana aku datang, biarkan aku pergi untuk kita semua

4.Vanuatu 15 Juli 2010 menjadi awal kampanye Terbuka Hon. Powes Parkop di lapangan terbuka five Mile park. Didalam kampanye terbuka didalam acara pertama pembukaan dan perecrutan tim kampanye untuk pemilihan 2012 ia mengatakan, semua persoalan di kepulauan Pacific menjadi masalah utama yang akan dikampanyekan karena masalah ini adalah masalah kita bersama.
Salah satu pembicaraan yang menonjol adalah; ia menekankan tetang persoalan Papua Barat, bagaimana kepulauan yang sangat jauh di Vanuatu mendukung perjuangan saudara-saudara kami yang satu tanah West Papua tetapi kami Papua New Guinea tidak buat apa-apa untuk mendukung perjuangan teman-teman kami di West Papua untuk merdeka seperti Negara-negara di pacific yang merdeka.
Didalam pembicaraanya Hon.Powes Parkop menekankan bahwa situasi politik di West Papua sedang memanas dengan adanya tuntutan Rakyat Papua menuntut Referendum dan menolak Otonomi. Hal ini disampaikanya setelah keinginan rakyat Papua semakin kuat untuk menentukan nasibnya sendiri di luar NKRI, maka ia menekankan agar PNG yang adalah satu tanah, satu suku, satu adat, satu nenek moyang harus mulai mengangkat suara untuk mendukung saudara-saudaranya di West Papua untuk kemerdekaan yang sejati seperti saudara-saudaranya yang lain di kepulauan Pacific.
Ia menekankan didalam kampanye untuk pemilihan Perdana Mentri di PNG ia akan lebih berfokus pada masalah-masalah yang ada di Melanesia dari pada kedudukanya di kursi Perdana Mentri di PNG, untuk itu ia meminta kepada seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung semua perjuangan OPM yang ada di kepulauan Pacific.
“ Vanuatu Negara yang jauh tetapi mereka sudah meng-undangkan dukungan mereka didalam salah satu butir undang-undang untuk mendukung saudara-saudara kami di West Papua dalam perjuangan pemisahan diri dari NKRI, sedang kami yang masih satu tanah tidak buat apa-apa untuk saudara-saudara kami yang setanah air, untuk itu saya sebagai pemimpin di atas tanah utuh tanpa batas ini akan mengangkat persoalan West Papua untuk merdeka dari jajahan Indonesia. Sudah cukup lama sanak-saudara kami di West Papua menderita dibawah dijajah Indonesia, kini saatnya untuk kita bangsa Melanesia berdiri bersama dan menyelesaikan segala macam bentuk persoalan di kepulauan pacific lebih khususnya di West Papua”.
Ia menambahkan, “ Kalau Vanuatu telah melakukan langkah-lankahnya menetapkan sebuah undang-undang dan menyediakan ruang kerja untuk OPM, bagaimana dengan kita di PNG yang se-tanah air? Saatnya untuk kita duduk bersama untuk melihat penderitaan yang sedang di alami oleh teman-teman kami di sekeliling kita”.
Dalam acara ini pengungsi yang berada di Port Moresby menghias anak-anak mereka lalu menyanyi dan menari di atas panggung dimana Hon Powes Parkop berpidato, sisamping kiri kanan Bendera Bintang Fajar, Bendera Timur Leste ditancapkan lalu bendera PNG di tancapkan di tengah-tengah panggung.
Setelah acara berakhir, malam hari kami datang kerumah Hon. Powes dan berbincang-bincang tentang langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. Dalam pertemuan 30 menit, beliau mengatakan “this is time”, “ ini waktunya untuk semua bangsa Melanesia duduk bersama untuk saling memperhatikan, saya telah menerima otoritas/rekomendasi dari pertahanan pusat Tentara Revolusi West Papua untuk menjalankan tugas untuk mengatur sayap politik perjuangan Papua Barat untuk itu saya harus mulai dari sekarang sebelum terlambat, karena teman-teman kami di Vanuatu telah mengangkat sura untuk mendukung kami dalam perjuangan, saya secara pribadi tidak persoalkan dengan keberadaan banyak baksi dalam perjuangan Papua Merdeka, saya sudah lama menduduk perjuangan Papua Merdeka dibawa organisasi MELSONL, (Melanesian Solidarity) maka sekarang kami akan focus langsung dengan organisasi induk perjuangan yang ada sesuai mandate yang diberikan kepada saya”.
Demikian perkembangan perjuangan rakyat Papua di Pacific Island, berita selanjutnya akan menyusul setelah dilakukan beberapa persiapan.
———————————————————–
Waspadalah

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: