Gustafalattas ' Proud be Indonesian People

Juli 12, 2010

Oooh inikah Negeri Salah Urus .?!

Filed under: Uncategorized — Gustaf Al attas @ 5:02 pm

Tingginya angka kemiskinan yang menghimpit bangsa Indonesia seringkali memunculkan stigma buruk yang dialamatkan kepada bangsa ini.

Kita seringkali dicap dengan beragam stempel buruk, misalnya bangsa kita disebut tidak ulet dan kreatif, bahkan dituduh sebagai bangsa pemalas. Bagi orang yang masih memelihara kesan itu, sudah saatnya citra buruk itu dikubur hidup-hidup setelah mendengar fakta ini.

Kantor berita Antara hari (Sabtu,10/7) melaporkan kesuksesan seorang petani Jawa Barat. Ya, seorang petani dari Tasikmalaya ini berhasil mengembangkan pertanian organik di lahan dangkal.

Ketenaran Aef, pria kelahiran 1966 itu, sebagai ahli pertanian organik terus tersiar hingga keluar tanah parahyangan, bahkan ke luar negeri. Banyak orang, baik perorangan maupun berkelompok, datang berguru kepada petani itu. Namun, ketenaran petani asal Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung itu tidak kunjung memperbaiki kehidupan ekonomi keluarganya. Hingga suatu hari, datanglah sejumlah orang dari Serikat Sunnah Tani dari Kelantan, Malaysia, menemui Aef beberapa tahun lalu. Mereka bukan hanya untuk berguru, tapi menawarkan perbaikan ekonomi bagi pria itu.

Setahun lalu, pergilah dia merantau ke Malaysia. Bukan sebagai buruh kasar tentunya, karena orang-orang Malaysia itu rupanya tertarik pada keahlian yang dimiliki Aef.

Aef kini pulang dengan membawa hasil dari Malaysia. Selain kebutuhan finansial yang tercukupi, ia juga datang mengantar tiga orang, yakni Direktur Serikat Sunnah Tani H Muhammad Nuri, kepala marketing H Julemi, bagian keuangan H Alyas, untuk bertemu dengan ketua gabungan kelompok tani padi organik Tasikmalaya Uu Syaeful Bachri. Pada akhir pekan minggu pertama Juli itu, mereka juga melihat proses pertanian organik di Tasik.

Di sela-sela kegiatan itu, Aef menyatakan kebanggaannya hidup di Malaysia. Dia menyatakan, pilihannya menjadi petani dan mengabdikan ilmunya di Kelantan, sebagai sesuatu yang lebih baik dibandingkan ketika dia melakukan hal yang sama di tanah kelahirannya sendiri.

Baru setahun Aef di Malaysia, dia mengaku mampu mengubah kehidupan ekonomi keluarganya menjadi lebih baik. Bahkan dia bisa mengumpulkan dana untuk menunaikan ibadah haji.

Menurut Aef, selain menjadi petani dan menggarap sawah padi di negeri jiran itu, dia juga memberikan pelatihan cara penanaman padi organik kepada petani di Malaysia.

Dari hasil mengajar pelatihan sistem penanaman padi itu, ia mendapatkan gaji cukup besar dari pemerintah Malaysia, hingga mampu membangun rumah di kampung halamannya menjadi layak huni.

Menurut Aef, ada enam petani Indonesia yang bekerja dan memberikan pelatihan tentang pertanian di sana, yang datang ke Kelantan dibawa oleh Serikat Sunnah Tani. Dengan nada bangga, Aef mengatakan, “Saya dan yang lainnya diberi gaji sebesar Rp 12 juta per bulan.”

Menurut dia, kepergiannya ke Malaysia memang untuk mencari perubahan ekonomi agar dapat menyejahterakan keluarganya.Selama di Malaysia, menurut Aef, segala ilmu dan jasa-jasanya sebagai petani lebih dihargai. Penghargaan itu berupa sejumlah fasilitas pertanian maupun kesejahteraan ekonomi.

Dengan miris, Aef bertutur soal kondisi petani di tanah airnya, “Buruh tani di sini sulit sejahtera, karena yang dibayar hanyalah tenaganya bukan dilihat dari ilmu atau jasanya.”

Sementara itu, Ketua Agribisnis Tasikmalaya Wawan mengatakan, kepergian petani terbaik asal Kabupaten Tasikmalaya itu ke negara Malaysia menjadi boomerang bagi pertanian di Indonesia.

Dinilai dari jangka pendeknya, menurut dia, sepertinya tidak ada kerugian apa-apa. Padahal, kata dia, kepergian Aef, dan sejumlah petani lain yang memiliki keahlian itu, memiliki dampak negatif tersembunyi bagi perkembangan pertanian di dalam negeri.

Wawan mengatakan, “Lama-lama Malaysia akan mencuri teknologi penanaman padi organik di Tasikmalaya. Lalu, jika selama ini Malaysia mendatangkan beras dari Tasikmalaya, maka lama-lama nanti bisa jadi sebaliknya.”

Hingga kini pemerintah Indonesia tidak pernah perduli dengan masalah ini. Fenomena yang menimpa Aef, bukan sekali dua kali terjadi. Banyak orang berpotensi di negeri tercinta ini lebih memilih hidup di negeri orang, karena jerih payahnya tidak pernah dihargai di tanah airnya sendiri.Negeri ini salah urus!

Sudah saatnya pemerintah melakukan upaya sistemik untuk mencegah larinya aset sumber daya menusia berpotensi ke luar negeri. Kecuali kita masih ingin terus disebut bangsa yang ditempeli dengan beragam cap pejoratif. Tentu kita tidak menghendakinya! (Antara/PH)

1 Komentar »

  1. pemerintah indonesia seharusnya memperhatikan rakyatnya dan harus hati2 dengan negara tetangga yang mengancam.
    dalam kasus ini sangat di sayangkan ahli pertanian di manfaatkan oleh negara lain. seharusnya negara ini bisa memberikan support kepada ahli2 petani. agar pertanian kita bisa maju dan lebih baek..🙂

    Komentar oleh rio — Juli 13, 2010 @ 4:27 pm | Balas


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.