Gustafalattas ' Proud be Indonesian People

Mei 3, 2010

Solusi Terintegrasi atasi Problem Energi Indonesia 2010

Filed under: Uncategorized — Gustaf Al attas @ 8:55 pm

Persoalan krisis energi di Indonesia tidaklah sederhana. Masalahnya sudah terlalu kompleks. Salah satu di antaranya adalah persoalan subsidi energi (khususnya BBM dan Listrik). Di satu sisi, subsidi energi dilakukan untuk meringankan beban rakyat yang memang menjadi kewajiban bagi pemerintah. Menjamin rakyat memiliki aksesibilitas terhadap energi baik dari harga dan kemudahan aksesnya. Namun di sisi lain, subsidi memiliki efek negatif yang juga besar.
Dampak negatif pemberian subsidi antara lain mendorong masyarakat untuk menghabur-hamburkan pemakaian energi fosil karena murah. Masyarakat merasa bahwa energi atau BBM yang selama ini mereka gunakan itu murah. Padahal murahnya harga adalah akibat adanya subsidi. Lemahnya budaya hemat energi berakibat pada meningkatnya jumlah pemakaian energi sehingga level emisi terus bertambah akibat penggunaan energi fosil yang berlebihan.
Akibat lain dari subsidi bahan bakar fosil adalah menghambat perkembangan energi terbarukan (renewable resources). Tipikal pemikiran di Indonesia adalah bagaimana kita memanfaatkan energi fosil semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan energi, selama sumber daya tersebut masih tersedia di bumi pertiwi. Namun tidak berfikir bahwa nanti, di saat energi tak terbarukan tersebut memasuki masa kritis dan bahkan habis, barulah kita menyadari pentingnya hemat energi.
Yang lebih disayangkan lagi adalah pemerintah kita belum punya skema subsidi dan insentif finansial lainnya untuk pengembangan energi terbarukan. Mengapa? Sebagai akibat, harga energi terbarukan di Indonesia masih mahal dibanding energi fosil. Panas Bumi/geothermal contohnya.
Lokasi Indonesia terbukti memiliki kandungan panas bumi yang sangat besar, terutama karena dilewati oleh deretan pegunungan dunia sirkum pasifik. Dengan potensi panas bumi yang besar itu, belum ada investasi swasta yang masuk ke dalamnya. Hal ini dikarenakan belum ada kepastian dari pemerintah bahwa energi dari panas bumi yang dihasilkan akan dibeli oleh PLN untuk didistribusikan ke sektor hilir, yaitu konsumen langsung listrik.
Dari uraian tersebut, penulis mengambil beberapa kesimpulan, yaitu perlu adanya penanaman kesadaran di masyarakat bahwa sejatinya energi yang mereka gunakan itu mahal. Sehingga kemudian diharapkan masyaratkat mampu mengkonsumsi energi dengan lebih bijaksana. Lebih melakukan penghematan dan sesuai dengan kebutuhan.
Dalam penyusunan kebijakan energi, pemerintah harus memperhatikan masalah-masalah yang mengganjal yang dapat menyebabkan fokus penyelesaian krisis energi tidak integratif dan solutif. Permasalahan yang berkaitan satu sama lain harus diselesaikan dengan solusi yang juga berkaitan. Masalah ini ibarat chain of problem dimana satu masalah disebabkan oleh masalah lain dan kemudian juga menyebabkan masalah lainya.
Maka sudah seharusnya solusi yang ada terintegrasi satu sama lain. Misalnya, untuk meningkatkan investasi dalam pembangunan energi terbarukan, dibutuhkan adanya intensif dari pemerintah, seperti pengurangan hambatan birokrasi yang berlebihan. Tak cukup hanya itu, pemerintah juga perlu memberikan insentif berupa ceiling price atau batas harga atas, serta pembelian energi hasil panas bumi oleh PLN pada harga tertentu.

Sekitar 90% migas Indonesia kini dikelola perusahaan raksasa asal AS seperti Exxon Mobil, Chevron, Halliburton, Unocal. Dari kerjasama tersebut mereka mendapat keuntungan yang sangat besar melebihi kontrak bisnis yang wajar.

Sebagai contoh jika ongkos pompa minyak (tidak termasuk pengilangan dan distribusi ke SPBU) yang… wajar hanya sekitar US$ 4/barel (Rp. 231/liter), maka gerombolan perusahaan asing tersebut mengeruk keuntungan hingga US$ 50/barel atau lebih besar dua belas kali lipat. Jika dikalikan total produksi 365 juta barel per tahun, maka keuntungan dikeruk perusahaan MNC tersebut Rp. 154,5 triliun per tahun.

Beredar dokumen USAID berbahasa Inggris yang isinya menyoroti sektor LISTRIK/PLN di Indonesia. Menurut dokumen itu, selama kebijakan listrik masih diatur-atur pemerintah Indonesia, sangat tidak menguntungkan bagi para investor AS yang ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

Uang Rakyat-rakyat Indonesia/WNI yang bayar LISTRIK ke PLN lari ke para investor AS
Selama ini kita berbangga kalau cadangan energi kita sangat besar di dunia. Tetapi ternyata cadangan energi kita per capita bila dibandingkan dengan keadaan energi dunia masih sangat kecil,” kata Anggota
Dewan Energi Nasional (DEN) Mukhtasor di Jakarta, Kamis (21/4).
Cadangan gas Indonesia per capital hanya 11 ton per capital. Sementara cadangan minyaknya hanya 2,7 ton dari cadangan energi dunia. “Kalau sekarang seluruh cadangan energi kita diserap, diproduksikan seluruhnya maka saya khawatir cadangan energi kita tidak akan sampai pada anak cucu kita. Itu lah pentingnya DEN, membuat roadmap produksi energi secara nasional,” katanya.
Karenanya lanjut Mukhtasor, perlu ada pertimbangan khusus bagaimana mensubstitusi ketergantungan energi fosil dengan energi alternatif. “Soal faktor penerimaan negara, bisa saja disubstitusi energi dengan energi alternatif,” katanya

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: